Truth or Dare


Jum'at, 23 April 2021


TRUTH OR DARE


Gadis itu duduk termenung di pojokan kelas. Sungguh tidak tertarik terhadap kebisingan yang dibuat oleh seisi kelasnya. sesekali kepalanya hampir terkantuk meja ketika tangannya terlepas dari dagunya.

"Hey,"

Gadis itu tersentak. Hampir saja dia terjungkal dari tempat duduknya. Dengan cepat ia menoleh kearah sumber suara.

"Hey." jawabnya sambil tersenyum kikuk.

"Nggak main truth or dare sama yang lain?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya lemah. Raut wajahnya menunjukkan tidak adanya ketertarikan dengan pembicaraan ini. Tapi siapa yang menyangka hatinya ternyata begitu berbunga-bunga sejak lawan bicaranya duduk di sampingnya.

"Kenapa?" tanya dia sambil mendekat ke arah lawan bicaranya.

"Nggak papa."

Sekali lagi gadis itu hanya menjawab dengan laut yang sangat sangat datar. Dia tampaknya begitu ahli dalam menyembunyikan perasaannya.

"Seriusan kenapa? Dari tadi aku lihat kamu cuma bengong aja. Kalau ada masalah tinggal cerita, jangan dipendam sendiri."

"HAH?! Demi apa dia bilang begitu?!"  teriak gadis itu, dalam hati tentunya. Alih-alih berkata begitu dia malah menggelengkan kepalanya.

"Serius gak papa,"

"Bo'ong."

Gadis itu terlalu bingung mau menjawab apa. Alhasil ia hanya mengedikkan bahunya. Hingga untuk menit menit setelahnya hanya mereka habiskan untuk termenung dalam keheningan.

"Daripada diem-dieman di sini, yuk gabung aja sama yang lain. Bengong lama-lama enggak sehat, loh. Bisa-bisa nanti kesurupan."

Tanpa aba-aba, tangan gadis itu sudah digenggam oleh lawan bicaranya tadi. Waktu seakan melambat ketika mereka berjalan berdampingan menuju pusat keramaian kelas. 

Hingga tibalah kini dia di permainan yang dia benci. Dia membenci permainan karena 3 hal. Pertama, hidupnya terlalu biasa-biasa saja untuk dirinya mengungkap sebuah kebenaran atau truth. Kedua, dirinya terlalu kikuk dan membosankan untuk melakukan sebuah tantangan. Dan terakhir, dia membenci permainan ini karena dia selalu overthinking terhadap apa yang dipikirkan orang-orang ketika dia melakukan tantangan atau mengungkap sebuah kebenaran.

Dan di sinilah dia sekarang, hendak bermain permainan yang sangat tidak disukainya. Sebuah botol sudah dipegang oleh orang di sampingnya, yang tak lain seseorang yang tadi menyeretnya ke dalam permainan ini.

"Well, karena gue baru gabung, gue yang muter botolnya." Tanpa menunggu persetujuan yang lainnya, dia sudah mulai memutar botol itu dengan kencang.

Gadis itu hanya berharap supaya botol itu jangan sampai menuju kearahnya. Keringat dingin mulai menetes ketika botol mulai melambat dan seperti hendak menuju kearahnya. Dia hanya bisa berharap cemas dan seketika menyesali kenapa dirinya mau saja ditarik ke permainan ini.

Namun untungnya botol itu ternyata mengarah ke arah orang di sebelahnya, yang tak lain orang yang menarik tangannya tadi.

Suara bising kembali bersahut-sahutan. Kebanyakan dari mereka menertawakan kebodohan orang disampingnya. Gadis itu hanya bisa tersenyum geli melihat ekspresi cemberut orang di sebelahnya.

"Truth or dare?"

"Truth." katanya mantap tanpa pikir panjang.

"Yah nggak asik, pilih dare aja. Masak lo nggak berani." sahut salah satu siswa.

"Biarin. Cepetan apa truthnya, bentar lagi udah bel masuk."

Semua yang di ruangan itu mulai berfikir truth apa yang hendak diberikan. Lalu sepertinya mereka sudah sepakat, ketika seorang sisiwi mengangkat tangannya.

"Oke, mungkin ini pertanyaan klasik. Siapa orang di ruangan ini yang lo suka?" kata siswi itu sambil tersenyum ke korbannya.

Deg. Entah bagaimana tapi pertanyaan itu seperti mampu menghentikan detak jantungku. Yang ditanyai mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling, nampak ragu untuk memberikan jawabannya. Hingga mata coklat itu juga jatuh ke mata sang gadis yang tetap memasang wajah datar sedari tadi.

"Jadi, orang yang gue suka adalah..."

Dia kembali mengedarkan pandangannya. Memberikan kesan yang lebih menegangkan. Seisi kelas hening.

"Lo."

Mungkin saja gadis berwajah datar itu akan langsung menjerit jika saja jawaban itu ditujukan kepadanya. Orang disebelahnya memandang tepat ke depan, arah dimana pertanyaan tadi bersumber.

Gadis pemberi pertanyaan tampak tersenyum malu, sedangkan seisi kelas bersahut-sahutan menyoraki keduanya.

"Gue udah lama suka sama lo. Jadi gue juga mau nanya pertanyaan klasik sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?"

Keadaan menjadi hening. Hingga sedetik kemudian kembali riuh.

"Te-ri-ma."

"Te-ri-ma."

"Te-ri-ma."

Yang disoraki tidak menjawab, namun sebuah anggukan kecil menjadi pertanda awal kisah cinta mereka.

Suasana kelas semakin riuh, semua siswa berdiri dan memberikan selamat. Hingga tertinggal lah satu gadis dengan senyum getir di wajahnya yang sedari tadi datar.

Tanpa mengikuti semua siswa yang sibuk mengerubungi pasangan baru di kelas mereka, gadis itu hanya berjalan ke bangkunya di pojokan. Tempat seharusnya dia berada sedari tadi.


_The End_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review dan Sinopsis Film Love and Monsters

Find Myself